Sunday, 16 April 2017

Tentang Pindahan & Barang yang Harus Dimiliki Saat Mengisi Rumah

Photo from HelloStranger

Ps: Tulisan ini diupdate karena ada beberapa yang berubah dan temanya terlalu sama kalau bikin postingan baru~

“Yuk mulai packing, dua minggu lagi kita pindahan!”
*Kemudian memandang berkeliling kamar kosan yang kami tinggali 1,5 tahun ini*
“Packing apa ya kita? Kok semua barang punya kosan. Kita enggak punya apa-apa……”
Jleb sambil ketawa sendiri begitu sadar kalau saya sama YBS belum punya furniture apa-apaan hahahaha. Ranjang dan kasur, side lamp, side desk, kulkas, meja rias, lemari baju, credenza, semua punya kosan. Cuma satu rak buku, rak sepatu, TV, dispenser, dan segala prentilan aja yang beneran punya kami.
“Ya udah, beresin baju-baju sama buku aja dulu,” kata YBS setelah ketawa-ketawa ngenes juga.
GOD SAVE MY WALLET T________T

Monday, 27 February 2017

4 Pertimbangan Sebelum Menentukan Lokasi Rumah [For Dummies]

Photo from here
Kenapa for dummies? Iya karena saya juga enggak ngerti-ngerti banget *plak*.
Tapi kalau masalah yang serius-seriusnya pasti udah banyak lah ya dibahas. Informasi teknis seputar mengecek air, konstruksi bangunan, dan lainnya menurut arsitek bisa juga dilihat di artikel saya yang dimuat di sini.
Jadi kali ini saya enggak akan bahas mengenai air PAM vs sumur, konstruksi, dan lainnya. Saya mau cerita apa aja yang dipertimbangkan dan bagimana proses saya meyakinkan diri memilih lokasi rumah, di antara sekian banyak pilihan yang bikin kita semakin sadar bahwa kemauan dan kemampuan itu sering tak sejalan. Tsk.
Soalnya, kalau belum yakin-yakin banget, bisa jadi kita makin gampang terusik sama komentar orang sih *yea right* Misalnya…
“Serius ambil di sana? Gila jauh banget kenapa enggak di daerah gw aja lebih deket?”
“Hah, tanahnya cuma segitu? Kecil banget…”
…. Dan lain sebagainya.
Emang ada yang bakal komentar kayak gitu? Ada banget, tapi ya mereka juga bukan niat kenapa-kenapa sih, memang secara alami kan orang seneng ya ngasih saran dan berharap bisa membantu. Nah makanya yakinin diri dulu seyakin-yakinnya sebelum memilih rumah yang dikecengin biar kalau ada kalimat kayak gitu kita juga enggah gampang goyah. Apalagi baper.

Sunday, 5 February 2017

#Wishlist 7 Tanaman yang Cocok untuk di Rumah (Indoor & Outdoor)

photo from here

Sama halnya kayak persiapan pernikahan, persiapan punya rumah ini banyak selingannya. Hahaha. Saya pernah bilang, ketika punya suatu rencana, saya ini orangnya kind of obsessed browse this and that, dari yang prentilan sampai yang gede-gedenya.
Oh iya, yang dimaksud selingan adalah… Ketika progress masih dalam tahap nunggu pihak lain atau justru mandek, biasanya saya malah “pelarian” mikirin prentilan. Termasuk dulu bikin blog ini juga,gara-gara butuh pelarian dari persiapan pernikahan lol.
Nah, jadi ceritanya… Si calon rumah (ehem) masih dirapi-rapiin sama developer karena kebetulan ada garansi 3 bulan dari serah terima kunci. Bersih-bersihin area yang perlu dipoles lagi, termasuk ngecat dan benerin plafon. Di sela-sela penantian ini *halah, saya udah mikirin taneman-taneman yang diinginkan buat di rumah.
Sebenernya udah dari lama ngecengin beberapa tanaman yang cocok buat di rumah, tapi karena enggak kebayang naro di mana (di kosan sekarang paling bisanya kan tanaman plastik or sukulen), jadi enggak pernah cari tahu namanya. Baru setelah diiming-imingi sepetak halaman mungil di si calon, langsung cari tahu apa nama tanaman yang saya maksud.
Nah, siapa tahu lagi pada penasaran juga, ini saya tulis 7 tanaman yang cocok buat di rumah, baik untuk tanaman indoor atau outdoor. Tentunya versi saya. 
Tanaman Buat di Rumah 1: Monstera

Tuesday, 31 January 2017

Dilema Millennials Saat Membeli Rumah

Photo from here


The generation of renters they said. Millennial under 35 years old.
Kira-kira 4 tahun lalu saya pernah diramal sama seorang tarot readers. Dia lagi diwawancara untuk dibikinkan profil di media tempat saya bekerja dulu. Teman-teman pun mengantre minta diramal tarot dan saya pikir, okelah ikutan. Lucu-lucuan aja. Yang ternyata akhirnya malah jadi enggak lucu.
Ada beberapa “terawangan” dia yang bikin saya meringis, salah satunya: “Seumur hidup, kamu akan mengontrak dan enggak punya rumah.”
Bam!
Sejak itu, frasa “punya rumah” jadi menakutkan. Padahal sebelumnya, saya yang masih polos dan enggak paham seputar harga rumah maupun tanah ini mikir bahwa orang itu pasti akan punya rumah. Apalagi saking naifnya, dulu sempet sesumbar pengen punya rumah di Jalan Kerinci *lempar batu bata* dan langsung babak belur dikatain orang sekantor. Hahaha. Fresh grad, masih coro, mimpinya ketinggian.
Beberapa tahun kemudian, saya bersugesti positif: Pasti dia nerawang berdasarkan generasi doang, deh. Nebak-nebak aja, karena sejak 2 tahunan lalu, emang santer istilah bahwa Millennials adalah generasi sewa atau kontrak. Konsep kepemilikan itu udah enggak relevan katanya buat mereka.

Saturday, 28 January 2017

Menikah, Bikin Resepsi atau Akad Aja?

photo from here

Beberapa tahun belakangan memang lagi rame banget perkara modal menikah. Antara modal uang, modal gengsi, atau modal keberanian mental. Dibarengin banyaknya menikah dengan resepsi yang undang sedikit orang biar lebih hangat dan intimate atau memilih untuk menyelenggarakan akad tanpa resepsi nikah.

Enggak ada yang salah, semua kan tergantung keadaan masing-masing nggak sih? Yang menarik, beberapa hari ke belakang saya sempat dapet email dari pembaca blog ini *hiks, terharu ada yang baca. Btw kalian salah satu alasan aku akhirnya buka dan mulai nulis lagi di sini hihi* tentang keinginan dia nikah sederhana dengan jumlah undangan minimal, tapi enggak dibolehin orangtua. Orangtua pengennya pernikahan pada umumnya, di gedung dan mengundang banyak orang. Dia juga bilang tentang masalah gengsi orangtua yang ingin bikin resepsi gede-gedean.

Sunday, 22 January 2017

Behind The Name



Big Brave Thing.
Tiga kata itu memang yang pertama ada di kepala saya ketika membayangkan tentang pernikahan, beberapa tahun lalu. 
Marriage leads to one and another new big responsibility dan dibutuhkan keberanian besar (bagi saya) untuk memulai fase itu. Bahkan, tadinya tiga kalimat itu mau dijadiin tulisan di dalam cincin kawin saya segala. Untuk pengingat bahwa hal besar ini sudah saya ambil dan pikirkan dengan matang. Tapi kok kesannya jadi terlalu bitter ya. Hahaha.
As a woman with commitment issue, jelas aja menikah dan kehidupan setelahnya adalah sebuah keputusan besar buat saya. Dan jujur, menakutkan di awal.

Friday, 25 December 2015

#Review Honeymoon di Anantara Uluwatu via Honeymoonkita.com


Masalah perbulanmaduan ini udah beres dari H-2 bulan sebelum nikah. Biasa, bosen ngurusin ini itu, nyari eskapisme buat ngurusin yang lain. Hahaha. 

Saya tipe yang beranggapan kalau milih hotel itu penting. Kalau liburan saya termasuk yang agak bawel milih hotel. Gak harus bederet sekian jumlah bintangnya, yang penting desainnya bagus, bersih, nyaman. Tapi biasanya pilihan jatuh ke concept hotel, sih. Untuk honeymoon, saya sama ybs sepakat buat pilih yang beda. Meski pas extent 1 hari setelah nginep di sini, kami kembali ke concept hotel yang unik tapi on budget sih :p

Setelah beberapa pilihan, saya memutuskan menginap dua malam di Anantara Uluwatu, chain hotel bagian dari Minor Hotel Group. Anantara yang pertama ada di Thailand, sekarang selain Indonesia dia juga ada di Kamboja, China, Maldives, Vietnam, UEA, dan lupa lagi -_-

Oke, sebelum review Anantara Uluwatu, mending kita bahas dulu kenapa kami milih honeymoon di sini. Ini sekalian tips menentukan lokasi honeymoon juga ceritanya :p

Pertama, honeymoon ideal kami kayak gimana?